Hitam dan Putih Karakter dalam Drama dan Kehidupan NYata

menonton serial meruapakan salah satu hobi saya sejak mengenal TV series dari luar terutama dari barat. beberapa series yang sudah saya tonton sejak tingkat 3 kuliah yaitu lie to me, House M.D, Sherlock, Game of Thrones, Agents of Shield, dan terakhir House of Cards. series-series ini selain memiliki plot yang bagus, menurut saya juga merupakan karya seni yang tinggi akan makna kehidupan yang tersirat di dalamnya.

 

tontonan series ini lah yang dapat melupakan saya dari hiruk pikuk dunia pertelevisian indonesia. dari 24 jam sehari, 7 hari seminggu, maksimal waktu saya untuk di depan televisi tidak lebih dari 8 jam selama seminggu. alasannya simpel : tidak ada suatu tayangan yang membuat saya penasaran, apa kelanjutan ceritanya untuk hari esok atau minggu depan. selain itu, menurut saya sendiri, drama-drama yang muncul di stasiun-stasiun TV swasta indonesia hanyalah drama picisan yang fokusnya berkutat di romansa anak-anak yang terlalu cepat dewasa dan bau kencur. urusan yang dibahas di dalam sinetron indonesia hanyalah cinta, cinta dan cinta, dengan scene zoom in yang kelamaan dan suara dalam hati yang terdengar sampai satu RT. kalau ada orang kerajinan yang masukin sinetron-sinetron indonesia ke dalam IMDb, saya yakin ratingnya ga lebih dari 4/10. dapat segitu saja sudah syukur.

 

saya masih heran kenapa sinetron ini ratingnya ngalahin badminton olympic games 2016.

 

selain plot picisan yang hanya berkutat di dunia romansa, ada satu hal lagi yang membuat saya begitu malasnya nonton sinetron indonesia. penokohan di sinetron-sinetron di indonesia tidak pernah ada yang realistis. karakter yang selalu ditonjolkan di dalam sinetron adalah karakter hitam 100 % atau putih 100 %. protagonis selalu digambarkan dengan orang baik yang tidak pernah salah bagaikan malaikat. kelemahan-kelemahan protagonis seakan-akan tidak dapat dieksploitasi oleh tokoh antagonis untuk mencapai tujuannya.

jika protagonis di sinetron seakan-akan adalah malaikat yang 100 % putih, maka tokoh antagonis di dalam sinetron seakan-akan adalah iblis yang 100 % hitam yang tidak pernah punya sisi kebaikan. tokoh-tokoh antagonis di dalam sinetron hanya menghabiskan hidupnya untuk satu tujuan ” memusnahkan tokoh protagonis”. tidak pernah ada satu pekerjaan pun yang dilakukan tokoh antagonis, tanpa adanya kebencian terhadap protagonis. protagonis adalah 100 % putih tanpa noda hitam sedangkan antagonis adalah 100 % hitam tanpa adanya titik putih. tidak ada zona abu-abu.

hal yang lebih anehnya lagi, adalah karakter-karakter pendukung yang ada di lingkaran tokoh protagonis dan antagonis. di dalam sinetron selalu dibuat bahwa semua orang yang mendukung tokoh protagonis adalah orang baik. dengan pola yang sama, semua karakter yang menentang tokoh protagonis (mendukung antagonis) adalah orang jahat. tentunya, pola seperti itu jelas pola yang salah di dalam membuat karakter di dalam drama.

tentunya bagi orang yang masih mempunyai akal sehat dan menikmati suatu karya seni, karakter 100 % putih atau hitam ini adalah suatu hal yang tidak mungkin. sebaik-baiknya seseorang, mereka pasti memiliki kesalahan dan kelemahan. begitupula dengan tokoh antagonis, seburuk-buruknya dan sejahat-jahatnya tokoh antagonis, pasti ada suatu karakter di dalam dirinya yang mengandung kebaikan atau kelebihan. bahasa singkatnya, ada bagian abu-abu di dalam hitam putih suatu drama. bagian abu-abu inilah yang seharusnya bisa diolah penulis skenario untuk menciptakan suatu konflik yang bermutu dan menghasilkan resolusi serta konklusi yang mantap dalam suatu drama.

tentunya, pola pikir 100 % hitam atau putih ini secara langsung akan berdampak bagi konsumen sinetron. artinya, pola cerita di dalam sinetron akan menjadi suatu pola yang digunakan oleh penonton sebagai pola dalam berperilaku sehari-hari. sinetron pada awalnya memang merupakan hiburan, tapi jika hiburan tersebut diberikan secara terus menerus, akan menjadi suatu pola pikir yang dimiliki oleh para penontonnya. nah jika di dalam sinetron selalu ditonjolkan penokohan 100 % hitam dan 100 % putih yang sudah saya jabarkan diatas, maka secara perlahan-lahan pola tersebut akan menjadi pola pikir para penontonnya. ini tentunya sangat berbahaya jika tertanam di dalam penonton sinetron, apalagi tanpa diimbangi tayangan bermutu yang menghadirkan objektivitas terhadap suatu hal atau seseorang.

mengapa berbahaya?

oke, di paragraf ini kita sudah sampai pada kesimpulan sementara bahwa pola penokohan di sinetron akan menjadi pola pikir penontonnya dalam menjudge suatu tokoh atau seseorang. nah, yang saya khawatirkan (dan sepertinya terjadi) adalah pola 100 % hitam dan 100 % putih di sinetron, dibawa-bawa ke kehidupan nyata. dengan pola penokohan sinetron yang hitam-putihnya begitu kentara, maka secara tidak sadar, penonton-penonton akan menggunakan pola yang sama dalam memetakan orang-orang dan tokoh dilingkungan mereka.

secara tanpa sadar, penonton akan menganggap bahwa orang yang mereka anggap baik, termasuk public figur, adalah orang yang 100 % baik tanpa ada kesalahan. sedangkan orang yang mereka anggap buruk, adalah orang yang 100 % buruk tanpa ada kebaikan sama sekali. tentunya hal ini tidak mungkin terjadi mengingat bahwa tidak ada orang yang betul-betul tanpa kebaikan ataupun keburukan di dalam karakternya. artinya, setiap orang punya kebaikan dan keburukan yang bisa dinilai secara objektif oleh seseorang. penilaian objektif ini tentunya akan melibatkan kebaikan dan keburukan seseorang untuk dimasukkan ke dalam penilaian.

mengapa pola karakterisasi di sinetron-sinetron indonesia berbahaya bagi kehidupan sosial secara tidak langsung? dengan pola pikir penonton hasil didikan sinetron, tentunya masyarakan dengan pola pikir tersebut akan terhalangi dalam melakukan penilaian objektif terhadap seseorang atau sesuatu. masyarakat tidak akan bisa melihat kebaikan dari seseorang yang mereka anggap buruk dan tidak akan bisa melihat keburukan dari seseorang yang mereka anggap baik. yang baik akan dianggap sebagai nabi yang tidak bisa salah, yang buruk akan dianggap sebagai iblis yang tidak bisa benar.

tentunya, semakin banyak masyarakat dengan pola pikir seperti ini, jelas akan mengganggu interaksi sosial dan pola kemasyarakatan. dengan hilangnya objektivitas dalam penilaian terhadap sesuatu, tentunya masyarakat, terutama penonton sinetron hanya akan menilai sesuatu dari sisi mereka saja. permasalahan yang lain, tentunya di dalam kehidupan nyata tidak ada tokoh antagonis dan protagonis yang berlaku untuk umum. masing-masing orang adalah protagonis di dalam kehidupannya sendiri.

hilangnya objektivitas juga menyebabkan masyarakat akan menelan informasi-informasi mengenai tokoh atau orang yang ada di kehdiupan mereka tanpa filter. semua informasi kebaikan atau keburukan akan ditelan mentah-mentah tanpa ditelaah terlebih dahulu apakah hoax atau fakta. pada akhirnya, dengan cara pandang seperti sinetron, masyarakat akan mudah terpecah belah dikarenakan hilangnya toleransi antar sesama. padahal kunci dalam toleransi adalah selalu berpikir secara objektif terhadap segala hal yang ditangkap dari lingkungan.

terakhir, dengan banyaknya sinetron-sinetron yang tidak mendidik, marilah kita filter televisi kita sebijak mungkin agar informasi dan hiburan yang kita terima betul-betul bermutu dan bermanfaat. dengan membiasakan diri menerima tayangan yang baik dan bermanfaat, setidaknya kita sudah bisa memilah input dan informasi yang masuk ke kepala kita sehingga pikiran kita tetap sehat dan objektif

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: